Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dan menjadi sorotan utama dalam dinamika politik internasional setelah Iran diserang dalam serangan militer terkoordinasi antara Amerika Serikat dan Israel menghantam sejumlah wilayah di Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Peristiwa Iran diserang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan terkait program nuklir Iran yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi perhatian serius komunitas global serta memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Serangan tersebut memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik regional yang lebih luas, terutama mengingat pernyataan keras dari kedua belah pihak. Situasi ini juga berdampak langsung terhadap stabilitas keamanan kawasan, termasuk lalu lintas udara dan aktivitas sipil di Iran.
Kronologi Iran Diserang dalam Operasi Militer Terkoordinasi

Dilansir dari Al-Jazeera, Iran diserang pada Sabtu pagi waktu setempat. Sekitar pukul 09.30 waktu Teheran (06.00 GMT), ledakan dilaporkan terjadi di ibu kota. Kepulan asap terlihat di sejumlah titik strategis, termasuk kawasan Lapangan Jomhouri dan Lapangan Hassan Abad.
Tak hanya di Teheran, ledakan juga terdengar di beberapa kota besar lainnya seperti Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah. Hingga kini, belum ada kepastian resmi terkait jumlah korban jiwa maupun tingkat kerusakan fasilitas militer dan sipil akibat serangan tersebut.
Militer Israel menyatakan bahwa Iran diserang merupakan serangan preemtif yang telah direncanakan selama berbulan-bulan bersama Amerika Serikat. Target yang disasar disebut sebagai puluhan situs militer yang berkaitan dengan infrastruktur pertahanan dan program strategis Iran.
Sebagai respons cepat, otoritas Iran langsung menutup wilayah udara nasional. Sirene peringatan berbunyi di berbagai kota sejak pukul 08.15 waktu setempat. Pemerintah juga menginstruksikan warga untuk tidak berkumpul, serta menunda aktivitas sekolah dan pekerjaan kecuali untuk kebutuhan mendesak. Kebijakan pembatasan ini diberlakukan hingga dua hari ke depan.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Iran mengantisipasi potensi gelombang serangan lanjutan maupun ketidakstabilan keamanan dalam negeri.
Pernyataan Tegas Donald Trump dan Sikap Washington
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menggambarkan operasi ini sebagai “operasi tempur besar” yang sedang berlangsung. Dalam pernyataannya, ia meminta pasukan pemerintah Iran untuk meletakkan senjata mereka.
Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir. Ia menyatakan bahwa kekuatan militer AS siap memastikan stabilitas kawasan dan menghentikan apa yang disebutnya sebagai ancaman dari proksi-proksi Iran.
Pernyataan tersebut semakin mempertegas posisi Washington yang selama ini konsisten menekan Teheran terkait isu nuklir. Pemerintah AS berpendapat bahwa langkah militer ini diperlukan untuk mencegah eskalasi ancaman yang lebih besar di masa depan.
Namun di sisi lain, Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan tidak bertujuan mengembangkan senjata nuklir. Perbedaan narasi inilah yang selama bertahun-tahun menjadi sumber ketegangan antara kedua negara.
Keterlibatan Israel dalam operasi ini juga memperlihatkan semakin eratnya koordinasi militer kedua sekutu tersebut, terutama dalam menghadapi isu keamanan di Timur Tengah.
Ancaman Balasan Iran dan Respons Diplomatik Internasional
Setelah Iran diserang, pemerintah setempat melalui pernyataan resmi menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional dan integritas teritorialnya. Teheran menilai tindakan tersebut melanggar Pasal 2 ayat (4) Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang melarang penggunaan kekuatan terhadap integritas wilayah suatu negara.
Iran menyatakan akan menggunakan hak membela diri sebagaimana diatur dalam Pasal 51 Piagam PBB. Pernyataan resmi dari otoritas Iran menegaskan bahwa angkatan bersenjata mereka tidak akan tinggal diam dan akan memberikan respons yang tegas serta kuat terhadap agresi yang dilakukan.
Selain menyiapkan opsi militer, Iran juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera bertindak guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. Sebagai negara anggota PBB, Iran meminta lembaga tersebut menjalankan mandatnya dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional.
Situasi ini berpotensi memicu ketegangan baru di kawasan yang selama ini sudah rentan konflik. Jika balasan militer benar-benar dilakukan, bukan tidak mungkin konflik akan meluas dan melibatkan lebih banyak aktor regional maupun global.
Di tengah ketidakpastian tersebut, masyarakat internasional kini menaruh perhatian besar terhadap langkah diplomasi yang mungkin ditempuh. Upaya negosiasi kembali menjadi krusial untuk mencegah konflik terbuka yang dapat berdampak terhadap stabilitas ekonomi global, harga energi, hingga keamanan internasional.
Perkembangan terbaru terkait Iran diserang oleh koalisi AS dan Israel ini masih terus dipantau. Dunia kini menunggu apakah situasi akan mengarah pada de-eskalasi melalui jalur diplomasi atau justru memasuki babak baru konflik terbuka di Timur Tengah.

Leave a Reply