Update Perang Iran vs AS-Israel, Teheran Klaim Punya Strategi Jitu

Perang Iran vs AS-Israel

Konflik terbaru dalam politik internasional kembali memanas setelah serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026. Dalam perkembangan terbaru Perang Iran, kedua kubu terus melancarkan serangan balasan yang meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Meskipun secara militer Iran dinilai lebih lemah dibandingkan kekuatan gabungan AS dan Israel, Teheran diyakini memiliki strategi khusus untuk mempertahankan diri dan menekan lawannya dalam konflik yang berpotensi berkepanjangan ini.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengklaim bahwa serangan udara gabungan yang dilakukan bersama Israel telah menghancurkan sebagian besar kemampuan militer Iran. Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menyebut pertahanan udara, angkatan udara, angkatan laut, hingga kepemimpinan militer Iran telah mengalami kerusakan signifikan.

Namun, Iran membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa mereka masih memiliki kapasitas untuk melakukan serangan balasan. Dikutip dari BBC, Pemerintah Teheran bahkan telah meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah target di Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk respons atas serangan tersebut.

Baca juga: Siapa Ali Khamenei dan Apa yang Terjadi pada Iran Setelah Ia Wafat?

Strategi Perang Iran vs AS-Israel

Para analis keamanan menilai bahwa strategi utama Perang Iran dalam melawan AS dan Israel bukanlah memenangkan perang secara konvensional. Sebaliknya, Teheran disebut mengandalkan strategi “perang atrisi” atau perang pengurasan sumber daya.

Pakar keamanan Timur Tengah dari Royal United Services Institute (RUSI), Dr. H. A. Hellyer, menjelaskan bahwa pendekatan perang Iran adalah membuat konflik menjadi berlarut-larut dan mahal bagi pihak lawan.

Menurut Hellyer, Iran memahami bahwa mereka tidak dapat menandingi kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel secara langsung. Oleh karena itu, strategi yang dipilih adalah memperpanjang konflik sehingga biaya ekonomi, politik, dan militer yang harus ditanggung lawan menjadi semakin besar.

Pendapat serupa disampaikan oleh Nicole Grajewski, peneliti dari Centre for International Studies (CERI) di Prancis. Ia menilai Iran mencoba melemahkan lawan secara bertahap melalui serangan berulang yang memaksa AS dan Israel terus mengeluarkan sumber daya.

Rudal dan Drone Jadi Andalan

Dalam Perang Iran saat ini, rudal balistik dan drone menjadi tulang punggung strategi militer Teheran. Iran diketahui memiliki salah satu persenjataan rudal balistik terbesar di kawasan Timur Tengah.

Israel memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal dengan jangkauan mulai dari 1.000 hingga 3.000 kilometer. Beberapa di antaranya adalah rudal Sejjil serta Fattah yang diklaim sebagai rudal hipersonik.

Selain itu, strategi perang Iran juga mengandalkan drone serang satu arah seperti Shahed. Drone ini diproduksi dalam jumlah besar dan relatif murah dibandingkan rudal pencegat yang digunakan oleh sistem pertahanan udara Israel dan sekutunya.

Strategi ini bertujuan untuk memaksa lawan menghabiskan rudal pencegat yang jauh lebih mahal. Dengan kata lain, meskipun banyak drone yang berhasil ditembak jatuh, Iran tetap dapat menguras persediaan sistem pertahanan udara lawannya.

Ancaman Selat Hormuz

Salah satu faktor yang membuat Perang Iran berpotensi berdampak global adalah posisi strategis Iran di sekitar Selat Hormuz. Jalur laut sempit ini merupakan salah satu rute distribusi energi paling penting di dunia.

Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat tersebut. Iran bahkan dilaporkan telah menutup jalur ini dan mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melintas.

Jika gangguan terhadap jalur energi ini terus berlanjut, dampaknya bisa dirasakan secara luas oleh ekonomi global, termasuk lonjakan harga minyak dan ketidakstabilan pasar energi dunia.

Kekuatan Militer dan Sekutu Regional

Meski menghadapi tekanan militer yang besar, Iran masih memiliki kekuatan militer yang cukup signifikan. Menurut laporan Military Balance 2025 dari International Institute for Strategic Studies (IISS), Iran memiliki sekitar 610.000 personel aktif.

Jumlah tersebut terdiri dari sekitar 350.000 tentara reguler dan sekitar 190.000 anggota Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC. Organisasi militer ini memainkan peran penting dalam program rudal dan drone Iran serta berbagai operasi regional.

Selain itu, Iran juga memiliki jaringan sekutu regional yang sering disebut sebagai “Poros Perlawanan”. Kelompok ini mencakup milisi Houthi di Yaman, kelompok bersenjata di Irak, Hizbullah di Lebanon, serta Hamas di Palestina.

Walaupun beberapa kelompok tersebut telah mengalami tekanan besar sejak konflik Gaza pada 2023, keberadaan mereka tetap menjadi bagian dari strategi Iran untuk memperluas konflik secara regional.

Netanyahu Janji Lanjutkan Perang

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa negaranya akan terus melanjutkan operasi militer terhadap Iran.

Netanyahu bahkan menyatakan bahwa Israel memiliki “banyak kejutan” yang disiapkan untuk melemahkan rezim di Teheran. Ia juga menyerukan kepada rakyat Iran untuk menentang pemerintah mereka.

Pernyataan tersebut semakin meningkatkan ketegangan di kawasan dan memicu kekhawatiran bahwa Perang Iran dapat berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas.

Para pengamat menilai bahwa masa depan konflik ini akan sangat bergantung pada stabilitas internal Iran, respons negara-negara Teluk, serta kemungkinan tekanan diplomatik internasional untuk menghentikan pertempuran.

Jika eskalasi terus meningkat, konflik ini tidak hanya akan berdampak pada Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dan keamanan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published.