Gibran hadiri perayaan imlek bertajuk Harmoni Imlek Nusantara 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (28/2/2026), dengan membagikan angpao kepada barongsai cilik yang tampil dalam rangkaian acara. Kehadiran Wakil Presiden RI tersebut menjadi sorotan publik karena berlangsung di tengah perayaan budaya yang merepresentasikan semangat kebinekaan Indonesia.
Dalam agenda resmi kenegaraan itu, Gibran hadiri perayaan imlek bersama sejumlah pejabat tinggi negara. Acara yang digelar terbuka untuk masyarakat tersebut menampilkan berbagai pertunjukan seni dan budaya Tionghoa yang telah lama menjadi bagian dari wajah Indonesia. Sejak sore hari, kawasan Lapangan Banteng dipadati warga yang ingin menyaksikan langsung perayaan tersebut.
Dikutip dari Kompas, di area VVIP, Gibran Rakabuming Raka duduk berdampingan dengan sejumlah menteri dan pimpinan lembaga negara. Suasana semakin meriah ketika Krisdayanti tampil membawakan lagu berbahasa Mandarin yang diiringi atraksi barongsai cilik.
Pada akhir penampilan, Krisdayanti mengajak para barongsai cilik mendekat ke tenda tamu kehormatan. Di momen itulah Gibran berdiri dan secara langsung menyerahkan amplop angpao kepada beberapa anak yang mengenakan kostum barongsai. Gestur tersebut disambut tepuk tangan hadirin dan menjadi salah satu sorotan utama dalam rangkaian acara.
Tak hanya Gibran hadiri perayaan Imlek, sejumlah tokoh lain juga ikut membagikan angpao. Di antaranya Agus Harimurti Yudhoyono selaku Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Menteri PMK Pratikno, serta Ketua MPR RI Ahmad Muzani. Kehadiran mereka memperlihatkan dukungan pemerintah terhadap perayaan budaya yang menjadi bagian dari identitas nasional.
Mewakili barongsai cilik, Krisdayanti mengucapkan terima kasih kepada Wakil Presiden. “Xie xie Bapak Wapres, xie xie,” ujarnya dari atas panggung. Ucapan tersebut menjadi simbol interaksi hangat antara pejabat negara dan masyarakat dalam suasana perayaan.
Selain pertunjukan musik dan barongsai, acara Harmoni Imlek Nusantara 2026 juga dimeriahkan pertunjukan drone yang membentuk berbagai simbol seperti lampion, kuda api, beduk, hingga burung Garuda. Visual tersebut mempertegas pesan bahwa perayaan Imlek di Indonesia tidak terlepas dari semangat persatuan dan keberagaman.
Rangkaian kegiatan berlangsung tertib dengan pengamanan yang memadai. Ribuan warga yang hadir menikmati suasana perayaan tanpa sekat, menandakan bahwa Imlek telah menjadi momentum kebangsaan yang dirayakan bersama.
Baca juga: Gibran Jemput Prabowo Sepulang Lawatan Luar Negeri, Pesan Politik di Balik Penyambutan Presiden
Gibran Hadiri Perayaan Imlek dan Dimensi Politik Simbolik
Kehadiran Wakil Presiden dalam acara tersebut tak hanya bermakna seremonial. Gibran hadiri perayaan imlek juga dapat dibaca sebagai pesan politik simbolik di ruang publik. Dalam konteks komunikasi politik, kehadiran pemimpin negara di perayaan budaya memiliki makna representatif terhadap komitmen pluralisme.
Sebagai figur nasional, Gibran tampil dengan pendekatan yang relatif sederhana dan humanis. Momen ketika ia menyerahkan angpao kepada anak-anak barongsai membangun citra kedekatan dengan masyarakat. Visual semacam ini memiliki daya sebar kuat di media sosial dan memperkuat persepsi kepemimpinan yang inklusif.
Imlek sendiri telah diakui sebagai hari libur nasional dan menjadi bagian dari kalender resmi negara. Karena itu, setiap kali Gibran hadiri perayaan imlek, publik membaca kehadiran tersebut sebagai representasi negara yang hadir untuk seluruh elemen bangsa tanpa memandang latar belakang etnis maupun agama.
Dari perspektif politik kebangsaan, panggung perayaan di ruang terbuka seperti Lapangan Banteng menghadirkan simbol konkret kebinekaan. Di tengah dinamika politik nasional yang kerap diwarnai perbedaan tajam, perayaan budaya menjadi ruang temu yang relatif cair dan inklusif.
Keterlibatan sejumlah menteri dan pimpinan lembaga negara juga menunjukkan soliditas elite pemerintahan dalam merawat narasi persatuan. Pesan yang ingin ditampilkan bukan sekadar seremoni, melainkan konsistensi dukungan terhadap kehidupan sosial yang harmonis.
Meski demikian, publik tentu menilai lebih dari sekadar simbol. Kehadiran pejabat dalam perayaan budaya akan bermakna lebih kuat apabila diiringi kebijakan nyata yang melindungi hak-hak warga negara secara setara. Karena itu, makna politik dari momentum ini bergantung pada kesinambungan antara simbol dan praktik pemerintahan.
Di tengah lampion, barongsai, dan pertunjukan drone yang menghiasi langit Jakarta, Gibran hadiri perayaan imlek Nusantara 2026 dengan membawa pesan kebangsaan. Peristiwa tersebut bukan hanya tentang pembagian angpao, tetapi juga tentang bagaimana ruang budaya dapat menjadi panggung komunikasi politik yang menegaskan komitmen terhadap persatuan Indonesia.

Leave a Reply