Perempuan desa tidak lagi sekadar diposisikan sebagai pendamping dalam sektor pertanian. Di Desa Merden, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara, mereka justru menjadi aktor utama yang menjaga produksi pangan tetap berjalan. Di tengah meningkatnya perhatian pemerintah terhadap ketahanan pangan nasional, peran perempuan desa kini menjadi isu sosial sekaligus politik yang tidak bisa lagi diabaikan.
Realitas tersebut terlihat jelas di lahan pertanian Desa Merden. Aktivitas mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan hingga panen didominasi oleh perempuan. Kondisi ini menunjukkan bahwa wajah pertanian Indonesia sedang berubah, sementara kebijakan pembangunan desa perlu beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Fenomena tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan pemberdayaan yang digelar Komunitas Jagoan Desa Banjarnegara pada Rabu (29/7). Sebanyak 60 peserta yang terdiri atas petani, ibu rumah tangga, dan mahasiswa mengikuti kegiatan yang bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus membangun ekosistem pertanian yang lebih berdaya saing.
Di tengah bonus demografi dan meningkatnya keterlibatan generasi muda dalam isu sosial, pemberdayaan perempuan desa dinilai bukan lagi sekadar program komunitas. Isu tersebut telah berkembang menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional yang berkaitan dengan ketahanan pangan, pemerataan ekonomi, hingga masa depan desa.
Perempuan Desa Jadi Pilar Ketahanan Pangan
Perempuan desa kini memegang peran strategis dalam menjaga keberlangsungan produksi pangan. Ketika sebagian tenaga kerja laki-laki bermigrasi ke sektor nonpertanian atau ke perkotaan, perempuan mengambil tanggung jawab lebih besar untuk memastikan sawah dan lahan pertanian tetap produktif.
Ketua Komunitas Jagoan Desa Banjarnegara, Pak Toto, mengatakan fakta di lapangan menunjukkan bahwa perempuan telah menjadi pengelola utama pertanian di Desa Merden. Menurutnya, kondisi tersebut harus diikuti dengan kebijakan pemberdayaan yang memberikan akses lebih luas terhadap pelatihan, teknologi, hingga pemasaran hasil pertanian.
“Kami melihat sendiri bahwa sebagian besar yang mengelola lahan pertanian di sini adalah ibu-ibu. Karena itu, pemberdayaan perempuan menjadi salah satu prioritas kami. Ketika perempuan memiliki akses terhadap pemberdayaan, pengetahuan, dan pasar yang lebih baik, manfaatnya akan dirasakan langsung oleh keluarga dan masyarakat desa,” ujarnya.
Menurut Pak Toto, pembangunan pertanian tidak cukup hanya berbicara mengenai peningkatan produksi. Negara juga perlu memastikan kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung produksi memperoleh kesempatan yang sama dalam mengakses berbagai program pembangunan.
Bagi kalangan muda, isu perempuan dalam sektor pertanian juga menjadi bagian dari pembahasan mengenai kesetaraan kesempatan. Perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga aktor yang menentukan arah pembangunan desa di masa depan.
Program MBG dan Arah Kebijakan Pembangunan Desa
Hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai membuka ruang baru bagi petani lokal untuk memperkuat rantai pasok pangan nasional. Program tersebut diproyeksikan menciptakan kebutuhan bahan pangan yang stabil sehingga mampu meningkatkan serapan hasil pertanian masyarakat.
Dalam konteks kebijakan publik, kondisi tersebut dapat menjadi momentum memperkuat ekonomi desa apabila produksi pangan benar-benar melibatkan petani lokal sebagai pemasok utama. Perempuan desa yang selama ini menjadi pelaku utama pertanian berpotensi menjadi kelompok yang paling merasakan dampak positif dari kebijakan tersebut.
Pak Toto menilai keberhasilan MBG tidak hanya bergantung pada distribusi makanan bergizi, tetapi juga pada kemampuan pemerintah membangun ekosistem produksi pangan dari tingkat desa.
Sekretaris Desa Merden menyampaikan bahwa pemberdayaan perempuan merupakan investasi sosial yang memberikan dampak jangka panjang terhadap pembangunan.
“Perempuan adalah kekuatan besar di Desa Merden. Mereka bekerja di sawah, mengelola rumah tangga, sekaligus ikut menopang ekonomi keluarga. Harapan kami, berbagai program pemberdayaan yang ada dapat semakin memperkuat peran mereka sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat secara menyeluruh,” katanya.
Ia menambahkan bahwa meningkatnya kebutuhan pangan melalui MBG menjadi peluang untuk memperkuat posisi petani dalam rantai ekonomi nasional. Dengan pasar yang lebih jelas, desa tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam strategi ketahanan pangan Indonesia.
Anak Muda Perlu Terlibat Bangun Desa
Kegiatan pemberdayaan di Desa Merden juga diikuti mahasiswa yang belajar langsung mengenai praktik pertanian berbasis masyarakat. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa isu desa mulai mendapat perhatian lebih besar dari generasi muda.
Perubahan tersebut penting karena pembangunan desa membutuhkan regenerasi sumber daya manusia. Anak muda tidak hanya dibutuhkan sebagai inovator teknologi pertanian, tetapi juga sebagai penggerak organisasi masyarakat, kewirausahaan sosial, hingga advokasi kebijakan publik.
Dalam konteks politik pembangunan, desa akan semakin kuat apabila masyarakatnya memiliki ruang berpartisipasi dalam menentukan arah pembangunan. Keterlibatan perempuan desa dan generasi muda menjadi kombinasi penting untuk memperkuat demokrasi di tingkat lokal sekaligus mempercepat pemerataan kesejahteraan.
Pembangunan desa yang inklusif juga akan menghasilkan ketahanan sosial yang lebih baik. Ketika perempuan memperoleh akses terhadap pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan peluang usaha, dampaknya tidak hanya meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat kualitas sumber daya manusia di desa.
Kisah Desa Merden menunjukkan bahwa masa depan pertanian Indonesia tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau besarnya anggaran negara. Masa depan tersebut juga ditentukan oleh keberpihakan kebijakan terhadap masyarakat yang selama ini bekerja menjaga produksi pangan, termasuk perempuan desa yang kini menjadi kekuatan sosial sekaligus fondasi politik ketahanan pangan nasional.

Leave a Reply